Pengaruh kemajuan teknologi terhadap pernanan PR

Teknologi Komunikasi adalah alat atau sistem yang dapat meningkatkan kemampuannya berkomunikasi atau mempermudah proses penyampaian dan penerimaan pesan. Dampak dari kemajuan teknologi komunikasi berdampak bagi berbagai bidang. Perubahan arus globalisasi mengharuskan kita mengubah bentuk organisasi menjadi fleksibel, ramping dan tanggap terhadap perubahan lingkungan Dunia usaha terutama sektor industry, beberapa hal harus diperhatikan oleh perusahaan untuk mempertahankan citra dari peristiwa terhadap isu-isu yang melanda perusahaan atau lembaga tersebut. Disinilah peran Public Relation sebagai jembatan atau penghubung aspirasi masyarakat berfungsi.

Dengan kemunculan teknologi informasi, seorang PR dapat menerima atau mengirimkan informasi lebih cepat dan mendapatkan feedback dengan cepat pula. Perkembangan Teknologi yang semakin pesat menyebabkan banyaknya penemuan yang dapat memudahkan aktivitas manusia. Kemajuan teknologi dapat membantu seseorang dalam mengatasi masalah yang mungkin muncul dari batas-batas jarak, ruang dan waktu. Kemajuan teknologi yang begitu pesat telah membuat teknologi informasi menjadi ujung tombak perubahan-perubahan yang dirasakan manusia dimuka bumi ini.

Cepatnya teknologi yang berkembang membuat pola hidup masyarakatpun berubah.  Masyarakat yang sebelumnya agraris berubah menjadi masyarakat industri moderen, dari lamban ke era yang serba cepat, dari berasas nilai sosial menjadi konsumeris materialistis, dari kehidupan tergantung dari alam hingga menguasai alam perkembangan teknologi membuat kehidupan di zaman globalisasi ini menjadi lebih mudah dan praktis.

Teknologi yang berkembang ini memberikan kemudahan terhadap berbagai profesi, salah satunya aktivitas Public Relation. Salah satu contoh Tekonologi Moderen yang membantu kegiatan Public relation adalah Mailing List. Maling List adalah sarana diskusi secara elektronik yang berbasis e-mail. Cara kerja Mailing List adalah seorang penguguna cukup mengirimkan Email kesatu alamat e-mail yang kemudian disebarkan ke semua e-mail yang tergabung dalam mailing list tersebut. Ini  adalah salah satu keunggulan teknologi komunikasi yang menunjang aktivitas Public Relation untuk mempercepat pengiriman informasi. Keunggulan mailing list sebagai perkembangan teknologi sangat membantu Public Relation, karena proses Marketing dan PR dapat dilakukan teru menerus selama 24 jam sehari. Saat ini, penggunaan teknologi komputer semakain canggih dengan diproduksinya notebook yang sudah dilengkapi dengan modem dan teknologi wireless dan teknologi lainnya memudahkan dan mununjang seorang PR dalam melakukan tugasnya. Dengan menggunakan fasilitas internet, informasi yang disampaikan oleh PR dapat langsung diterima oleh publiknya tanpa perantara pihak ketiga dan begitu juga sebaliknya dengan fasilitas-fasilitas lainnya seperti website perusahaan dimana masyarakat publik dapat membaca langsung informasi yang diperlukan tanpa ada perantara.

Dalam era globalisasi peranan PR sangat diperlukan kinerjanya, perusahaan yang tidak memanfaatkan bidang tersebut bisa saja tertinggal karena tak menguasai perolehan dan penyebaran informasi. PR bukanlah fungsi manajemen yang dapat berdiri sendiri, bersama komunikasi pemasaran lainnya akan membentuk Intergreted Marketing Communications, merupakan cara yang paling efektif dalam mengkomsumsikan pesan-pesan utama kepada publiknya.

Pentingnya bidang komunikasi dan hubungan masyarakat menjadi perhatin yang sangat serius bagi perusahaan. Setelah ditelaah fungsi komunikasi dan hubungan masyarakat akan sangat terasa saat perusahaan berupaya mengembangkan usaha dan menghindari situasi yang kurang kondusif dengan lingkungan. Oleh karena itu, bidang komunikasi dan hubungan masyarakat perlu diberikan prioritas dalam dalam perusahaan. Keberadaan PR bukan hanya perlu untuk membina hubungan dengan pihak luar namun akan sangat penting untuk memberikan informasi kedalam baik kepada pimpinan maupun sesama karyawan sendiri. Perusahaan yang berkeinginan menerapkan atau menciptakan suasana nyaman dilingkungannya harus menerapkan prinsip keterbukaan. Disinilah bidang komunikasi dan PR sangat berperan.

Public Relations sebagai salah satu pilar terpenting dalam komunikasi pemasaran untuk menciptakan reputasi perusahaan. Para praktisi PR memposisikan sebagai bagian yang mengkomunikasikan sasaran dan pesan-pesan utama, target, dan rencana-rencana perusahaan. Integreted Marketing Comunications merupakan cara yang paling efektif dalam mengkomunikasikan sasaran dan pesan-pesan utama, target, dan rencana-rencana perusahaan.

Tantangan praktisi PR khususnya pada era kemajuan teknologi seperti saat ini adalah perannya sebagi pengelola hubungan, kepercayaan, ideologi perusahaan dengan lingkungan sekitarnya. Peran ini seharusnya didukung oleh status PR sebagai interpreter perusahaan. Praktisi PR harus selalu menjadi seseorang yang peka terhadap informasi dan harus memiliki nalar yang tajam terhadap multi kultural dan international yang melingkupi publik suatu perusahaan.

Indonesia dan Masyarakat Informasi, Implementasi teknologi, Kesenjangan digital dan teori Difusi Inovasi

Perkembangan teknologi sudah dirasakan keberadaannya di seluruh dunia karena perannya dalam menyebarkan informasi, termasuk Indonesia. Untuk mempertahankan eksistensinya, sebuah negara harus mengikuti perkembangan teknologi. Di Indonesia sendiri hal ini juga sedang ditanamkan. Situs Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia saat ini memasang tagline “Menuju Masyarakat Informasi Indonesia”.  Sebelumnya, mari kita lihat definisi dari “masyarakat informasi” itu sendiri. Peter Drucker pada tahun 1959 mengisyaratkan kemunculan individu-individu dengan tingkat pendidikan cukup baik yang mampu memodifikasi dan mensintesis pengetahuan sebagai sebuah bagian fundamental dari suatu pekerjaan. Individu-individu ini disebut sebagai knowledge worker. Para pekerja berpengetahuan ini akhirnya membentuk komunitas yang dikenal sebagai knowledge society. Komunitas baru bagi suatu dunia baru yaitu dunia digital, dimana bidang-bidang yang meliputi ekonomi, budaya, dan teknologi terintegrasi dalam skala global dan dikenal sebagai globalisasi.

Sedangkan menurut Wikipedia, masyarakat informasi atau information society merupakan masyarakat yang aktifitas -kreasi, distribusi, difusi, penggunaan, integrasi serta manipulasinya- terhadap informasi sangat signifikan di bidang ekonomi, politik maupun budaya. Jadi antara knowledge society dengan information society memiliki kesamaan tujuan, yaitu memperoleh keuntungan internasional secara kompetitif dengan memanfaatkan teknologi informasi melalui cara yang kreatif dan produktif dan bila ditilik lebih jauh merupakan transformasi serta kelanjutan dari era masyarakat industri yang sudah berlangsung puluhan tahun.

Peranan teknologi informasi semakin penting saat ini karena telah memasuki era informasi, di mana informasi merupakan komoditi yang sangat penting. Jika dilihat, banyak sekali contoh-contoh pengimplementasian teknologi. Misalnya seperti  penerapkan teknologi informasi sebagai sarana penyebarluasan di tempat-tempat umum. Sebagai contoh, stasiun kerta, pelabuhan, bandara, mall, dan banyak tempat umum lainnya yang telah dilengkapi dengan IT. Dewasa ini IT dapat diimplementasikan dalam berbagai macam kegiatan dan tujuan. Bagi tempat yang juga menjadi sarana public, informasi akan menjadi lebih mudah disampaikan kepada seluruh pengunjung yang berada di dalam area tersebut. Penyebaran teknologi informasi yang merata sangat diperlukan untuk menghindari berbagai masalah dalam perkembangan dunia teknologi seperti kesenjangan digital.

Kesenjangan Digital  atau Digital divide mempunyai arti sebagai kesenjangan (gap) antara individu, rumah tangga, bisnis, (atau kelompok masyarakat) dan area geografis pada tingkat sosial ekonomi yang berbeda dalam hal kesempatan atas akses teknologi informasi dan komunikasi/TIK (information and communication technologies/ ICT) atau telematika dan penggunaan internet untuk beragam aktivitas. Jadi, digital divide atau “kesenjangan digital” sebenarnya mencerminkan beragam kesenjangan dalam pemanfaatan telematika dan akibat perbedaan pemanfaatannya dalam suatu negara dan/atau antar Negara.

Masalah kesenjangan digital ini tentu perlu ditanggapi sedini mungkin dengan penuh kesungguhan, sebelum jarak kesenjangan tersebut semakin melebar. Upaya antisipasi atas perkembangan/perubahan di masa datang juga perlu dikembangkan, mengingat kecepatan dan kompleksitas perubahan yang cenderung meningkat, serta perkembangan telematika yang sering dinilai penuh kejutan yang masih sulit diperkirakan. Penyebab terjadinya kesenjangan digital sendiri adalah kurang memadainya infrastruktur yang ada, kurangnya skill atau sumber daya manusia yang dana, kurangnya isi atau materi dari suatu informasi yang tersebar, dan kurangnya pemanfaatan akan internet itu sendiri. Kesenjangan digital sendiri memiliki beberapa dampak, baik dampak positif maupun dampak negatif.

Dampak positif kesenjangan digital bagi sebagian orang yang belum mengenal atau menerapkan teknologi adalah masyarakat dapat termotifasi untuk ambil bagian dalam peningkatan teknologi informasi. Dampak negatif kesenjangan digital Bagi mereka yang mampu menghasilkan teknologi dan sekaligus memanfaatkan teknologi memiliki peluang lebih besar untuk mengelola sumber daya ekonomi, sementara yang tidak memiliki teknologi harus puas sebagai penonton saja. Akibatnya yang kaya semakin kaya dan yang miskin tetap miskin. Kemajuan Teknologi Informasi itu terlahir dari sebuah kemajuan zaman, bahkan mungkin ada yang menolak anggapan, semakin tinggi tingkat kemajuan yang ada, semakin tinggi pula tingkat kriminalitas yang terjadi.

Di Indonesia kesenjangan digital rasanya perlu dicegah untuk menghindarkan dampak negatifnya. Solusi mengurangi kesenjangan digital adalah penyedian infrastruktur yang memadai, pemberian penyuluhan tenteng kemajuan teknologi informasi, dan pembangunan fasilitas telekomunikasi antara kota dan desa. Jika hal-hal ini dapat terlaksana dengan baik, maka kemungkinan terjadinya kesenjangan digital akan berkurang.

Difusi Inovasi adalah teori tentang bagaimana sebuah ide dan teknologi baru tersebar dalam sebuah kebudayaan. Teori ini dipopulerkan oleh Everett Rogers pada tahun 1964 melalui bukunya yang berjudul Diffusion of Innovations. Ia mendefinisikan difusi sebagai proses dimana sebuah inovasi dikomunikasikan melalui berbagai saluran dan jangka waktu tertentu dalam sebuah sistem sosial. Tahapan peristiwa yang menciptakan proses difusi adalah mempelajari inovasi, pengadopsian,  dan pengembangan jaringan sosial.

Teori Technological Determinism dan Contoh Terkait

Marshall McLuhan pada tahun 1960 mencetuskan sebuah teori yang bernama Technological Determinism Theory. Ide dasar teori ini adalah bahwa perubahan yang terjadi pada berbagai macam cara berkomunikasi akan membentuk pula keberadaan manusia itu sendiri. Determinismberasal dari kata determine dalam bahasa Inggris yang berarti pengaruh untuk memutuskan atau menentukan sesuatu. Technological berasal dari kata technology, yang terdiri dari technique dan logos, artinya pengetahuan tentang cara atau metode dalam melakukan melakukan sesuatu (secara teknis).  Secara garis besar technological determinism berarti cara atau metode yang digunakan untuk memutuskan atau menentukan sesuatu.

tumblr_kxojwrkonb1qa70ibo1_500_large

Dalam teorinya, Marshal McLuhan mengemukakan bahwa“Technology has changed the way we communicate” yang berarti teknologi telah mengubah cara kita berkomunikasi. Melalui teori ini McLuhan ingin menegaskan bahwa pola kehidupan masyarakat manusia khususnya aspek interaksi sosial diantara mereka ditentukan oleh perkembangan dan jenis teknologi yang dikuasai masyarakat itu sendiri.  McLuhanmelihat media sebagai hal utama yang menentukan atau mempengaruhi hal lainnya. Maka secara umum teori ini berusaha untuk menjelaskan bagaimana teknologi khusunya media menentukan bagaimana individu dalam masyarakat untuk memikirkan sesuatu, merasakan sesuatu dan melakukan tindakan tertentu.

McLuhan meneliti sejarah perkembangan manusia sebagai masyarakat dengan mengidentifikasi teknologi media yang memiliki peran penting dan mendominasi kehidupan manusia pada waktu tertentu dan membaginya ke dalam empat periode media yang berbeda, yaitu periode Tribal, periode Literatur, periode Percetakan, dan periode Elektronik. Dasar pemikirannya adalah perubahan-perubahan cara manusia untuk berkomunikasi membentuk keberadaan kita dan sebagai budayawan ia berpendapat bahwa budaya itu terbentuk berdasarkan bagaimana kemampuan kita untuk berkomunikasi.

Periode Tribal adalah masa-masa budaya ucap atau lisan mendominasi perilaku komunikasi manusia pada saat itu. Periode Literatur adalah era penemuan alfabet fonetis di mana simbol-simbol tersebut digunakan oleh manusia untuk berkomunikasi secara tertulis tanpa interaksi tatap muka. Selanjutnya periode Percetakan yang merupakan era munculnya penulisan teks secara missal sehingga komunikasi juga dapat dilakukan secara massal walaupun masih linier dan tidak dapat dilakukan pada periode literatur. Dan yang terakhir adalah periode Elektronik. Pada periode ini ditemukannya Teknologi komunikasi telegraf menjadi awal dari periode di mana fragmentasi masyarakat musnah.

Konsep yang ditawarkan McLuhan ini mempunyai tiga kerangka urutan pemikiran, yaitu penemuan-penemuan hal baru dalam bidang teknologi komunikasi menyebabkan perubahan budaya, perubahan komunikasi manusia membentuk eksistensi kehidupan manusia, “We shape our tools, and they in turn shape us” yang berarti Kita membentuk alat-alat yang kita perlukan dan sekarang giliran alat-alat itu yang membentuk diri kita, dan yang terakhir ia menyatakan bahwa media merupakan inti dari peradaban manusia, di mana dominasi media dalam sebuah masyarakat menentukan dasar organisasi sosial manusia dan kehidupan kolektifnya.

Perkembangan iptek saat ini adalah solusi dari permasalahn yang ada. Sumbangan teknologi informasi terhadap peradaban dan kesejahteraan manusia memang harus diakui keberadaannya, namun manusia tidak bisa pula menipu diri akan kenyataan bahwa teknologi informasi mendatangkan banyak masalah dan berbagai bentuk penyimpangan-penyimpangan bagi manusia. Dampak positif dan dampak negative dari perkembangan teknologi dilihat dari berbagai bidang yaitu bidang informasi dan komunikasi, bidang ekonomi dan industri, bidang sosial dan budaya, dan bidang pendidikan.

Sebagai contoh fenomena munculnya smart phone yang  sedang marak digunakan oleh masyarakat Indonesia. Smart phone memungkinkan kita untuk berhubungan dan bertukar informasi dengan siapapun bahkan dengan seseorang yang berada sangat jauh dari tempat kita berada. Teknologi ini seharusnya sangat menguntungkan bagi manusia karena segala sesuatunya menjadi praktis. Namun yang terjadi justru smart phone merupakan sarana “mendekatkan yang jauh, menjauhkan yang dekat”. Dengan munculnya smart phone, masyarakat Indonesia lebih menyukai berdiskusi melalui teknologi tersebut sehinga orang-orang yang berada satu tempat akan saling mengacuhkan. Munculnya teknologi ini tentu saja sangat berpengaruh pada perubahan perilaku manusia, khususnya masyarakat Indonesia. Beberapa orang yang sedang berada di satu tempat yang sama sejatinya saling bertukar informasi, namun pada kenyataannya saat ini orang-orang lebih memilih untuk bertukar informasi dengan orang yang berada jauh darinya.

Implikasi Perkembangan Teknologi Komunikasi kepada Karakterisitik dari bentuk komunikasi Interpersonal, Massa, Interaktif

Teknologi Komunikasi adalah alat atau sistem yang dapat meningkatkan kemampuannya berkomunikasi atau mempermudah proses penyampaian dan penerimaan pesan. Dampak dari kemajuan teknologi komunikasi berdampak bagi berbagai bidang. Perkembangan teknologi komunikasi mempunyai beberapa implikasi terhadap karakteristik dari bentuk komunikasi interpersonal, media massa, dan interaktif. Seperti yang dijelaskan pada tabel dibahawah ini.

No

Karakteristik

Komunikasi

Komunikasi

Interpersonal

Interaktif

Media Massa

1. Arus pesan One-to-one Many-to-many One-to-many
2. Pengetahuan sumber terhadap audiens Pengetahuan sebagai audiens tunggal Pengetahuan partisipan didalam sistem interaktif Sedikit pengetahuan
3. Segmentasi Tinggi (demassified) Tinggi (demassified) Rendah (massified)
4. Tingkat interaktif Tinggi Tinggi Rendah
5. Feedback Baik dan segera Kadang terbatas, langsung, dan tertunda Sangat terbatas dan tertunda
6. Asynchronicity (menyimpan pesan) Rendah Tinggi Rendah kecuali buku dan surat kabar
7. Hubungan sosio-emosional Tinggi Rendah Rendah
8. Isyarat non-verbal Banyak Beberapa Visual banyak, audio tidak
9. Kontrol arus komunikasi Berpotensi saling mengontrol Berpotensi saling mengontrol Sedikit kontrol dari penerima
10. Privasi Rendah Biasanya rendah Tinggi

Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat bahwa komunikasi interpersonal memiliki arus pesan yang bersifat one-to-one, artinya pesan itu terjadi dari seseorang ke orang lainnya dimana komunikator memiliki pengetahuan  yang jelas atau karakteristik untuk memberikan nformasi kepada komunikannya. Sementara komunikasi interaktif memiliki arus pesan many-to-many yang berarti dari banyak orang kepada orang banyak pula. Berbeda dengan yang sebelumnya, media massa memiliki arus komunikasi one-to-many yang berarti informasi muncul dari satu sumber yang pada akhirnya informasi tersebut tersebar kepada banyak orang.

Selanjutnya adalah pengetahuan sumber terhadap audiens atau khalayaknya. Pada komunikasi interpersonal, seorang komunikan atau sumber mengetahui bahwa komunikannya adalah sebagai audiens tunggal. Sementara komunikasi interaktif memungkinkan untuk memiliki suatu kesepakatan tertentu dengan partisipan secara interaktif. Pada media massa, hanyak sedikit pengetahuan yang dimiliki oleh komunikan mengenai komunikatornya. Hal ini juga mungkin disebabkan oleh komunikan itu sendiri yang berjumlah banyak.

Poin selanjutnya adalah mengenai segmentasi yang ada pada masing-masing jenis komunikasi. Dalam hal ini terdapat kesamaan antara komunikasi interpersonal dan komunikasi dimana segmentasi yang ada cukup tinggi. Sementara pada media massa memiliki segementasi yang rendah, sehingga siapapun mungkin saja menerima pesan yang bersumber dari media massa tanpa terpatok pada segmentasi tertentu.

Jika dilihat dari tingkat keinteraktifan sebuah komunikasi, komunikasi interpersonal dan interaktif memiliki tingat keinteraktifan yang tinggi. Artinya sebuah aktivitas komunikasi yang terjadi pada komunikasi interpersonal dan interaktif merupakan komunikasi yang saling memberikan timbal balik. Berbeda dengan yang terjadi pada media massa. Sebagai pemberi informasi, tingkat keinteraktifan dari media massa cenderung rendah.

Komunikasi yang efektif adalah komunikasi yang terdapat feedback di dalamnya. Jika dilihat dari tabel diatas, komunikasi interpersonal merupakan bentuk komunikasi dengan feedback yang paling baik karena feedback muncul dengan baik dan segera setelah pesan tersampaikan. Pada bentuk komunikasi interaktif feedbacknya tidak menentu, kadang terbatas, langsung, dan mungkin saja tertunda. Berbeda halnya dengan yang terjadi  pada media massa. Feedback yang ada pada media massa sangat terbatas dan tertunda.

Pada komunikasi interpersonal, penyimpanan pesannya cenderung rendah. Hubungan emosional yang ada pada komunikasi interpersonal cenderung tinggi karena biasanya komunikasi jenis ini sifatnya. Kedekatan hubungan dalam bentuk komunikasi ini juga bisa menyebabkan isyarat non verbal menjadi banyak. Dalam komunikasi interpersonal, komunikator dan komunikan berpotensi untuk saling mengontrol. Privasi yang ada juga cenderung rendah.

Untuk komunikasi interaktif penyimpanan pesannya  cukup tinggi, namun hubungan sosio-emosional antara komunikator dan komunikannya rendah. Terdapat beberapa isyarat non-verbal didalam sebuah komunikasi interaktif, meskipun tidak sebanyak komunikasi interpersonal. Dalam jenis ini, komunikator dan komunikan berpotensi untuk saling mengontrol satu sama lain, hal ini mungkin juga disebabkan karena rendahnya privasi yang ada.

Dalam media massa daya penyimpanan pesannya rendah kecuali jika informasinya bersumber dari buku dan surat kabar karena pesan dari media-media tersebut lebih mudah diingat. Biasanya, hubungan sosio-emosional komunikator dan komunikan pada bentuk komunikasi ini rendah karena tidak saling mengenal satu sama lain. Terdapat isyarat non-verbal dalam media massa yaitu audio, tidak ada isyarat non-verbal dalam media massa karena dirasa tidak memungkinkan. Komunikan dalam komunikasi ini hanya bisa mengontrol sedikit dari pesan yang diberikan komunikannya. Sedikitnya kontrol yang mungkin diberikan salah satunya disebabkan oleh tingginya privasi yang ada.